Tampilkan postingan dengan label DMZ. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label DMZ. Tampilkan semua postingan

Kamis, 13 Agustus 2020

Sudomy sebuah karya brilian

Dalam sebuah pencarian di internet, ditemukan sebuah github yang menarik bagi saya. Sebuah tool untuk information gathering yaitu sudomy. Sudomy ini adalah tool yang digunakan untuk subdomain enumeration, sebagai alat bantu menganalisa domain dan mengumpulkan subdomain secara cepat dan lengkap.

Dalam hal hacking sendiri, sub domain seringkali menyimpan bug bug, atau celah celah yang sangat rawan karena jarangnya perhatian pada subdomain. Hal ini dapat dimanfaatkan oleh peretas untuk mendapatkan akses ke domain utama. Tidak jarang peretas menggunakan subdomain untuk loncatan ketika ingin mendapatkan bug dengan tingkat kerentanan yang tinggi.

Instalasi

Kali ini akan kita lakukan di sebuah virtual ekosistem dengan menggunakan:

  1. virtualbox
  2. os parrot security yang diimport dari ova

Langkah-langkah yang dilakukan

  • masuk ke parrot terminal terlebih dahulu
  • kemudian ketik git clone https://github.com/Screetsec/Sudomy
  • jangan lupa untuk install jq dengan perintah apt-get install jq
  • untuk melakukan scan dengan mengetik perintah ./sudomy -d (DomAIn) -a --html tetapi perlu diingat bahwa itu dilakukan di folder Sudomy/
  • ketika sudah selesai bisa di cek di folder Sudomy/output/
Kesimpulan
Kemampuan dari aplikasi Sudomy ini sangat membantu untuk melakukan information gathering terhadap subdomain terhadap target. Hasil yang diperoleh pun sangat menarik. Tampilan yang ditampilkan pun mudah dipahami

Jumat, 23 Agustus 2019

Konfigurasi Freeradius dan LDAP ZImbra

Dari judul diatas, memberikan pemikiran yang lebih agak sedikit berat menurut saya. Integrasinya yang menurut saya belum pernah saya implementasikan. Tapi apapun harus dilakukan untuk mengimplementasikan hotspot dengan menggunakan autentifikasi dari ldap yang sudah ada, yaitu ldap yang ada di mail Zimbra.

Langkah-Langkah
Pastinya langkah yang disiapkan adalah server. Spesifikasi server sebagai berikut :
  • Server menggunakan server virtual berbasis VMWare
  • VCPU sebesar 8 Core
  • RAM sebesar 8 Gb
  • Harrdisk sebesar 100 Gb
  • Os Ubuntu 14.04 LTS

Senin, 26 November 2018

Static route di Windows Server

Beberapa minggu ini, setelah banyak melakukan pelatihan dan mendekati akhir tahun banyak hal pun ikut hampir belum selesai. Salah satunya adalah membangun tuneling dengan salah satu instansi pusat. Tuneling ini diharapkan dapat menukarkan beberapa hal lewat jalur khusus. Setelah beberapa review dan rapat disepakati untuk membangun sebuah staging server dengan menggunakan os windows server. Server ini akan dijadikan sebagai server yang akan menampung request ke instansi lain lewat tuneling yang sudah dibuat sebelumnya.
Setelah dibuat dengan dua koneksi dimana mengarah  ke dmz dan satunya mengarah ke vpn untuk transaksi dengan instansi lainnya. Kemudian terjadi masalah yaitu link yang mengarah ke vpn susah diakses. Ketika melakukan ping dan tracert di  cmd windows server, seperti terjadi looping dan tidak stabilnya jaringan. Hal ini terjadi dengan perintah ping hasilnya sering tersambung dan bahkan sering menghasilkan rto. Begitu juga dengan perintah tracert, ketika kita panggil dengan perintah ini hasilnya muter-muter di bagian gatewaynya begitu juga sebaliknya sampai ke tujuan

Langkah-Langkah Solusi
Kita perlu melihat kondisi eksisting yang ada dengan melihat ip yang ada :
1. IP server 192.168.10.100
2. IP VPN 10.160.66.2
3. IP web service 172.16.160.128

Setelah kita ketahui bahwa ip ini sudah kita set maka langkah selanjutnya adalah kita menambahkan static route ke dalam ip vpn agar alamat ip webservice mau kita akses. Caranya adalah

route -p add 172.16.160.128 mask 255.255.255.252 10.160.66.2

Maksud perintah diatas adalah kita menambahkan routing dengan ip 172.16.160.128 untuk diarahkan lewat ke ip 10.160.66.2. Nah -p diatas digunakan agar routing ini sifatnya permanent, ketika server kita restart maka routing ini akan tersimpan.

Sumber

Rabu, 07 Januari 2015

Topologi yang mungkin

Setelah beberapa hari ini mengamati indah nya trafic internet yang naik menjadi 200 Mbps. Ada kegalauan hati yang terasa. Masih adanya penghambat dalam pikiran dan kenyataan. Bahwa topologi masih menjadi isu utama dalam koneksi internet. Dari mulai wifi / hotspot yang kadang bisa konek dan kadang gak konek. Mulai bingung untuk mau melakukan koneksi jika ada perangkat baru yang "dipinjami".
Jika menurut feeling dan kenyataan yang ada saya lagi pingin merubah topologi menjadi sederhana seperti berikut

Keinginan itu dikarenakan kemudahan dan fleksibilitas dalam pengelolaan jaringan. Keuntungannya :
  1. Masing-masing alat akan berperan sesuai dengan gambar
  2. Pemisahan antara dmz dan jaringan internal
  3. Disini terlihat sangat sederhana dan mudah
Ini hanya sebatas keinginan ajah. Untuk merubah seperti diatas perlu perencanaan yang lebih matang dan pengujian yang terus-menerus di network simulator. Ketika di implementasikan dapat berjalan dengan lancar
Kesimpulan
Ini lamunan ajah yah. Belum tau kapan implementasinya. Menurut diskusi dengan temen, ini sudah simple.

Jumat, 19 Desember 2014

DMZ arsitektur

Kok kayaknya jadi kecanduan nich bikin blognya. Lumayan lah untuk seorang newbie sehari bisa bikin satu artikel. Tapi apapun itu semoga menjadi awal yang bagus, untuk selalu membuat coretan dalam blog ini lebih berguna (meskipun sepi pengunjung heheheh).
Pada mulanya bingung untuk mencari judul di hari ini dan entah kenapa ketika memelototi data center di kantor kok teringat tentang dmz. Kembali teringat akan obrolan dengan sesama teman, tentang topologi dmz dan jaringan yang pas untuk di kantor.
Sebelumnya untuk memperdalam kegunaan dan arti dmz, dicari dengan metode pencarian secara online.
DMZ (De-Militarised Zone) merupakan zona / mekanisme untuk melindungi sistem internal dari user / pihak lain yang ingin memasuki sistem tanpa mempunyai hak akses. Biasanya wilayah ini berisi layanan yang mampu diakses oleh publik, berupa mail server, web server, dll. Metodenya juga ada bermacam-macam seperti :
  • Konsep NAT (Network Address Translation)
    Konsep ini bertujuan untuk merubah alamat riil (IP publik) menjadi alamat internal
  • Konsep PAT (Port Address Translation)
    Berfungsi memberikan identitas pada setiap Private IP adress Publik yang dimilikinya, misal 192.168.25.1 diberi identitas 192.168.25.1:10
Akhirnya kita masuk pada arsitektur DMZ. Ada beberapa contoh arsitektur yang bisa dipakai dalam penerapan DMZ.